Langsung ke konten utama

Lelaki Keras Kepala (3)

Kirana hening, ingatannya bening terhadap kenangan di bukan Oktober tahun lalu. Ia bukanlah seseorang yang pandai mengingat-ingat. Ia juga bukan seseorang yang suka meningat-ingat. Akan tetapi, keheningan malam di bulan September menghantarkannya pada kenangan itu.

Menanggung perasaan sepihak secara diam-diam sangatlah berat. Namun, ketika diam dan mengutarakan sama-sama beratnya, tak ada salahnya untuk mengutarakan., tulis lelaki itu pada status Whatsappnya.

Kirana termenung membaca tulisan itu, singkat namun menusuk hingga menembus pertahanannya. Dia tak kenal dekat dengan lelaki bernama Candra ini. Mereka hanya pernah bertegur sapa dan berkenalan pada suatu acara. Pertemuan itu menghantarkan mereka pada obrolan-obrolan yang santai namun begitu dalam. Kecocokan topik percakapan membuat mereka pada akhirnya bertukar nomor ponsel.

Kirana: Meskipun perasaan itu diemban oleh perempuan?

Candra: Yap, meskipun perasaan itu diemban oleh perempuan. Daripada menambah sesak dalam dada, 'kan? Lebih baik diutarakan.

Kalimat Candra sekali lagi singkat, namun menusuk. Maka, ketika Kirana merasakan kehangatan dan kenyamanan pada lelaki itu, ia bercerita tentang rasa yang ia emban sendirian pada waktu yang telah lama.

Percakapan mereka tak berhenti sampai di situ. Kirana yang sering membalas status Whatsapp milik Candra membuat lelaki itu mengeluarkan petuah-petuah sok bijak yang ia temukan dari buku-buku, cerita cinta teman-temannya, atau pun ia alami sendiri. Hingga pada akhir Oktober, Kirana mengirimkan sebuah pesan pada Candra.

Kirana: Kemarin, aku habis nangis.

Komentar