Kirana tak tahu apa yang ada dipikiran laki-laki itu. Laki-laki itu begitu keras kepala, tak pernah tahu kapan harus berhenti mengejarnya meski ia berulang kali telah mengatakan bahwa ia belum bisa membalas perasaan laki-laki itu. Kirana sudah kehabisan akal untuk membuat laki-laki itu berhenti mengejarnya. Kirana tak mau membuat laki-laki itu terluka.
"Kenapa?" tanya Kirana.
"Kenapa apanya?" Laki-laki itu menatapnya dengan keheranan.
"Kenapa kau mencintaiku? Kenapa tidak orang lain yang bisa mencintaimu? Kenapa harus aku?"
"Aku tak tahu. Mungkin, karena kau sudah membuatku lepas dari trauma patah hati. Kau membuatku mengerti, bahwa bagaimana pun, kita harus tetap percaya pada perasaan yang dinamakan cinta."
Kirana menatap kosong pada senja di hadapan mereka. Debu-debu yang tersapu angin, daun-daun yang menari, dan keheningan menjejali udara di antara dua anak manusia itu.
Kirana masih tak mengerti bagaimana laki-laki keras kepala ini bisa mencintainya. Kirana juga belum memahami kenapa sampai sekarang, ia belum bisa memahami perasaan laki-laki itu. Kirana menganggap laki-laki itu keras kepala, sedangkan laki-laki itu menganggap Kirana keras hatinya.
Komentar
Posting Komentar