Langsung ke konten utama

Lelaki Keras Kepala (2)

 Tak ada yang pernah tahu kepada siapa hati mereka akan terpaut. Menebak hati akan terjebak di siapa, bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Seperti laki-laki itu yang secara tidak sengaja bertabrakan dengan cerita-cerita kehidupan Kirana yang begitu menyedihkan. Mungkin karena pada dasarnya sifat laki-laki selalu ingin melindungi dan mengayomi seperti polisi, seperti itulah laki-laki keras kepala itu menjadi peduli dan jatuh hati pada Kirana.

Selamat 19 Desember yang ke sembilan belas, tulis laki-laki itu di tengah malam.

Kirana berpikir, apa sebenarnya yang laki-laki itu inginkan? Kenapa laki-laki itu begitu rela berjuang untuknya? Pertanyaan-pertanyaan itu bersarang di benak Kirana entah sudah berapa lama. Maka, tepat ketika pukul dua belas malam, saat 18 Desember baru saja lahir, Kirana nekat menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu pada laki-laki keras kepala.

"Aku tak menginginkan apapun selain kau kembali percaya pada rasa cinta. Aku akan berjuang untuk merakit puing-puing hati yang diluluhlantakkan nestapa. Aku mencintaimu, bukan semata-mata aku ingin memilikimu. Aku tak pernah mengharapkan timbal balik darimu," jawab laki-laki itu.

Kirana termenung. "Tak usah kauperjuangkan lagi," kata Kirana. "Aku sudah pernah berusaha untuk kembali percaya, tapi aku tak bisa. Aku terlalu takut perasaanku akan kembali dikoyak-koyak duka. Aku takut hatiku akan kembali patah untuk ke sekian kalinya. Jika, kau benar-benar ingin membuatku kembali jatuh cinta, ajari aku bagaimana caranya."

Mereka berdua hening dalam panggilan suara. Kirana bergelut dengan hatinya yang carut marut.

Laki-laki keras kepala itu menghela napas panjang sebelum berkata, "Bagaimana mungkin kau bisa jatuh cinta jika terlebih dahulu kau takut kecewa?"

Kirana diam, laki-laki itu diam. Hingga pada akhirnya, delapan menit setelah pukul dua belas malam, yang terdengar hanyalah suara nada panggilan yang terputus. Kirana terduduk di ranjang kacau balau, terpeluk oleh hati yang galau.

Komentar