Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Tak Nyaman

Kau tahu untuk menjadikanmu cinta padaku sangatlah sulit. Kau tahu aku harus merelakan hatiku patah berkali-kali hanya untuk bisa membuatmu melenyapkan perasaanmu padanya. Kau tahu itu. Lantas, pantaskah aku merasakan cemburu ketika kau masih dekat dengannya? Tidak. Memang sejak awal, aku tak pernah pantas untukmu. Namun kau tahu? Malam itu perasaan itu hadir begitu saja ditengah-tengah kesibukanku. Aku cemburu! Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku cemburu. Walaupun aku tahu, dicintaimu saja seharusnya aku sudah bersyukur. Namun, aku tak tahu kenapa, dada ini terasa panas. Seharusnya, aku tak berhak merasakan cemburu untuk sesuatu yang bahkan bukan punyaku. Tak apa, tak usah kau pikirkan, fokus saja pada apa yang sedang kau kerjakan saat ini. Mungkin ini hanyalah perasaan tak beralasan yang tiba-tiba masuk begitu saja.

Aku takut akan menyakitimu

Aku adalah seorang yang lemah. Tak pernah bisa untuk berjuang sekuat tenaga seperti yang lain. Tak pernah berjuang untuk bisa menatap wajahmu  Tak pernah bisa untuk memberikan rasa sebesar yang kau berikan kepadaku. Tak bisa selalu menuruti permintaan kecilmu. Tak pernah memberikan waktu untukmu sepenuhnya. Aku hanyalah entitas tak berharga: seonggok daging penuh kesombongan dan ego. Semakin kesini, aku semakin merasa bahwa aku tak pantas untukmu. Kau yang selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritaku. Kau yang selalu menemaniku ketika aku sedang sakit, meskipun tanpa bertemu. Semakin kesini, aku semakin takut aku akan melukaimu. Kau yang terlalu penyabar, kau yang tak pernah menuntutku untuk selalu ada. Aku takut kau akan merasakan kecewa. Merasakan sisi pahit dari rasa cinta hanya karena aku. Bila kau ada disini, aku ingin memelukmu lama. Menggenggam jarimu dan enggan untuk melepasnya. Karena aku tak suka terlalu banyak kata. Aku ingin bertindak, namun bingung berti...

Mencintaimu Tanpa Pernah Bertemu

Kepalaku masih terasa pusing akibat flu yang menyerang mendadak beberapa jam lalu. Tetes demi tetes air masih turun sisa hujan yang telah lalu. Namun malam semakin gelap dan sunyi kala kuputuskan untuk membuka mataku kembali. Aku menanti pesan darimu di Whatsapp. Dan ternyata benar, kamu membalas pesanku yang lebih banyak gombalan tak bermutu. Kamu kirimkan tangkapan layar yang berisi sajakmu yang baru saja kau buat. Benarkan yang kubilang? Kau bisa menulis lagi seiring berjalannya waktu. Seperti aku yang bisa menerima bahwa dia tak mencintaiku. Kala itu, aku bercerita kepadamu tentang si dia. Betapa dengan sabarnya kau menanggapiku meski diam-diam kau jatuh cinta padaku. Dan ketika aku sudah melepasnya, kau berkata, " let me heal you, Mas." Awalnya aku bingung, kau mencintaiku namun aku belum sepenuhnya menggerakkan hatiku dari dia. Kau pun sabar menunggu. Hingga malam itu aku sadar, aku bukan belum bisa mencintai lagi. Tapi sebenarnya aku sendiri yang enggan meningga...

Keputusan dan Penyesalan

Pukul 03.38 ketika aku memulai menulis. Jangan tanya kenapa atau mengapa. Yang penting menulis. Perkara nanti ada yang baca atau enggak, yang penting menulis. Kemarin malam, seorang sahabat meminta pendapatku tentang prodi yang akan dia ambil: kedokteran atau kependidikan? Sesuai passion mu, jawabku. Dia malah tambah bingung, passion nya makan -aku yakin dia hanyalah gurauannya semata-. Sebenarnya, menurutku, dua-duanya oke. Karena kelak output dari kedua prodi itu sama-sama bermanfaatnya. Ya memang seperti itulah, masih banyak teman-teman seperjuangan yang bimbang untuk menentukan keputusan. Aku pun sama seperti mereka: sastra Indonesia dan DKV. Yang terpenting itu bahagia atas semua keputusan yang sudah buat. Ini bahagia versiku. Kenapa harus mengikuti bahagia versimu? -Catatan Juang, Fiersa Besari. Yap, begitulah. Yang terpenting itu tidak menyesal dengan semua keputusan yang kita ambil. Jangan sampai ada kata-kata, "Coba dulu aku pilih itu". Kalau sempat keluar ...

Sebuah Awal

"Menulis adalah terapi. Kita tidak melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain. Berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses emikiran." - Fiersa Besari Setelah membaca novel "Catatan Juang" karya Fiersa Besari, saya merasa tercerahkan. Buku ini memberikan saya energi untuk menulis lebih dari bahan bakar roket ulang alik. Buku ini juga menyadarkan saya bahwa sebuah karya harusnya berdampak positif kepada masyarakat. Bukan hanya untuk keperluan komersial semata. Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, saya mendapat tawaran oleh salah satu guru Bahasa Indonesia saya: menuliskan beberapa buah puisi untuk dimasukkan ke dalam buku beliau yang akan diterbitkan. Beberapa hari itu juga, saya langsung semangat untuk menulisn. Namun, saya merasa tidak sreg dengan tawaran itu. Dan setelah membaca buku ini, saya memantapkan hati untuk menolak tawaran itu. Bukan disebabkan oleh k...