Langsung ke konten utama

Keputusan dan Penyesalan

Pukul 03.38 ketika aku memulai menulis. Jangan tanya kenapa atau mengapa. Yang penting menulis. Perkara nanti ada yang baca atau enggak, yang penting menulis.

Kemarin malam, seorang sahabat meminta pendapatku tentang prodi yang akan dia ambil: kedokteran atau kependidikan? Sesuai passionmu, jawabku. Dia malah tambah bingung, passionnya makan -aku yakin dia hanyalah gurauannya semata-. Sebenarnya, menurutku, dua-duanya oke. Karena kelak output dari kedua prodi itu sama-sama bermanfaatnya.

Ya memang seperti itulah, masih banyak teman-teman seperjuangan yang bimbang untuk menentukan keputusan. Aku pun sama seperti mereka: sastra Indonesia dan DKV.

Yang terpenting itu bahagia atas semua keputusan yang sudah buat. Ini bahagia versiku. Kenapa harus mengikuti bahagia versimu?
-Catatan Juang, Fiersa Besari.

Yap, begitulah. Yang terpenting itu tidak menyesal dengan semua keputusan yang kita ambil. Jangan sampai ada kata-kata, "Coba dulu aku pilih itu". Kalau sempat keluar kata-kata itu dari bibirmu, segeralah menanyakan kepada diri, jangan-jangan kamu juga menyesal memutuskan mantan pacar (karena memang banyak orang yang tak bisa move on dari mantan).

Mengapa harus menyesal dengan keputusan yang telah diambil? Toh, juga kita tidak bisa mengulangi waktu. Bagi sebagian besar orang, tak ada yang namanya kesempatan kedua. Kesempatan ketiga? Jika tak ada yang kedua, sudah pasti tidak ada kesempatan ketiga. Bila nanti ada kesempatan kedua pun, harganya tidak murah.

Jadi, bila dihadapkan dengan sebuah pilihan yang berat, pertimbangkan dulu plus-minus dari pilihan-pilihan itu. Setelah itu, baru membuat keputusan. Jangan pernah menyesal sekali pun dengan keputusan yang sudah diambil. Jangan sampai gara-gara merasa salah prodi, lalu prodi lain. Atau jangan-jangan berhenti kuliah? Itu sih keterlaluan namanya.

Komentar