Langsung ke konten utama

Lelaki Keras Kepala (4)

“Bisa ketemuan sekarang?" tanya Candra setelah mendengar bahwa Kirana menangis. Apapun yang terjadi, perempuan itu harus ditenangkan.

“Dimana?” tanya Kirana ditengah-tengah sesenggukannya.

“Aku baru sekitaran kampus nih, baru habis nganterin temenku. Cafe biasa, ya?”

“Oke. Aku ke sana sekarang.”

Gerimis mengiringi perjalanannya ke cafe dimana ia dan Candra akan bertemu. Kirana mengusap air mata di pipinya. Hari ini, semuanya sudah terungkap. Apa yang selama ini ia ingin tahu, apa yang selama ini dirahasiakan alam semesta pada dirinya sudah terungkap.

“Selamat malam, Mbak Rina. Mau pesan apa hari ini?” tanya Nanta, si barista.

“Nanti aja, mau nunggu temen dulu.”

“Oke.”

Kirana duduk di sudut cafe di sebelah dinding kaca. Ia membuka Whatsappnya, namun setelahnya dia hanya diam. Ia menatap dua nama di sana: Lingga dan Candra. Dua orang yang selalu ada untuknya. Lingga, teman semasa SMAnya dulu, orang yang menganggapnya seorang adik, padahal hanya kepadanya Kirana menaruh separuh hatinya. Sedang Candra adalah teman kuliah pujangga yang bahkan tak percaya lagi pada rasa bernama cinta.

Candra nampak memasuki cafe dengan pakaian serba hitam putihnya, ciri khas. Dulu ketika ditanya mengapa, ia menjawab, “Namaku Candramawa, percampuran antara hitam dan putih, makanya aku sering pakai hitam putih." Candra langsung memesan, lalu duduk berhadapan dengan Kirana.

"Ada apa, An?"

Di antara air matanya yang mulai menumpuk, menunggu untuk ditumpahkan, menceritakan kejadian tadi sore.

Komentar